setting

AdIbAh Az-ZaKiYa: Idul Adha dan Makna Berkorban

Idul Adha dan Makna Berkorban


Idul Adha adalah hari raya yang selalu kita peringati setiap tahunnya. Yaitu hari dimana kita diperingatkan kembali peristiwa pengorbanan 4000 atau 4500 tahun silam. Idul Adha atau lebih dikenal dengan Idul Kurban, mengingatkan kepada kita bagaimana proses perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim diutus oleh Allah untuk menyembelih anak satu-satu nya yang sudah lama diimpikannya. Perintah Allah ini menjadikan nabi Ibrahim berada diposisi yang super galau untuk menentukan pilihan diantara keinginan pribadinya untuk mempertahankan anaknya dan tuntutan perintah Allah. Namun, karena ketaqwaan Nabi Ibrahim yang begitu tinggi, maka Nabi Ibrahim lebih memilih imannya kepada Allah daripada dunia (anaknya). Walaupun pada akhirnya Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan kurban. Dari sini dapat kita ambil beberapa pelajaran berharga diantaranya adalah “makna berkorban”. Makna berkorban adalah memberikan sesuatu dari miliknya sendiri dengan didasarai tanpa pamrih. Allah berfirman
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran : 92). Peristiwa di atas adalah menjadi titik awal dianjurkannya perintah untuk berkurban bagi umat Islam. Sebenarnya islam telah mengajarkan berkorban sejak dahulu malalui peristiwa Qobil dan Habil yang diperintahkan untuk memberikan persembahan terbaiknya untuk Allah. Dari peristiwa-peristiwa tersebut dapat diambil garis bahwa manusia berkorban untuk mandapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Tidak ada satu pun kemuliaan di dunia ini yang didapatkan dengan cara yang mudah, semuanya membutuhkan pengorbanan ; kesabaran, keikhlasan, waktu, tenaga dan sebagainya. Kembali lagi Idul Adha menjadi momentum yang baik untuk mengingatkan manusia untuk berkorban untuk membangun pola hidup yang lebih agamis moralis.
Peristiwa Idul Adha tidak hanya menceritakan tentang pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, namun juga pengorbanan Siti Hajar berlari-lari dari bukit Shafa ke bukit Marwa demi mendapatkan air untuk buah hatinya. Setelah melihat perjuangan seorang ibu tersebut, akhirnya Allah mengabulkan doa Siti Hajar dengan memunculkan air zam-zam yang kita kenal sampai sekarang khasiatnya. Dari peristiwa ini pula dapat dipetik hikmah yang dirangkum dalam kalimat “ Man Jadda Wa Jadda”, barang siapa bersungguh-sungguh
pasti akan mandapatkan hasil. Permintaan seorang kepada Allah tidak akan terwujud tanpa berbanding lurus dengan usaha yang dilakukannya. Seorang tidak akan mendapatkan uang tanpa dia bekerja. Banyak sekali bukti bahwa kemuliaan dan kebaikan tidak akan didapat tanpa melalui sebuah pengorbanan. Seorang wanita tidak akan merasakan bahagianya menjadi seorang ibu, tanpa merasakan sakitnya terlebih dahulu sebuah persalinan. Negara kita tidak akan pernah merdeka tanpa adanya perjuangan rela mati oleh para pahlawan kita. Seorang siswa tidak akan mendapat nilai bagus, tanpa belajar semalaman sebelum ujian. Selanjutnya, mari kita renungkan pada diri kita, sudah kah kita berkorban? Untuk kita sendiri dan orang disekita kita. Wa allahu a’lam [arradhwa]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © AdIbAh Az-ZaKiYa Urang-kurai